Senin, 02 Januari 2012

SURAT TERAKHIR UNTUK SAHABAT

          Sengatan terik matahari, sungguh terasa hingga di pelupuk mata Friska, yang juga membuat cacing-cacing nakal diperutnya berontak, memperjuangkan hak-hak mereka. 
Sebuah warung nasi dipinggiran jalan semakin menarik perhatiannya dan ia pun tidak ingin lagi menolak kesempatan baik itu. Deru mobil yang dikendarainya berhenti dan menepi tepat di depan sebuah rumah makan.
          Sepiring nasi beserta lauk pauk dan minuman yang sejak tadi telah di pesannya kini telah habis dalam perutnya. Suasana dan hiruk pikuk disekitar rumah makan menyita perhatiaanya, termasuk juga seorang pria yang sedang duduk disudut rumah makan itu. Friska yang merasa kenal mencoba menghampirinya secara perlahan. Raut wajah Friska sangat menunjukkan kalau pria tersebut memang orang yang pernah ia kenal.
          “ Fandy, hey apa kabar kamu ? ”. Friska menepuk bahu Fandy, hingga ia menoleh namun tak ada tanggapan sedikit pun darinya. “ Fandy, kok kamu pulang ke Jakarta ngga kasih kabar sih ? ”. “ Eh... maaf Fris, aku lagi terburu-buru, soalnya masih banyak urusan yang harus aku selesaikan, maaf aku duluan ya... ”. Fandy segera berlalu dari pandangan Friska, seolah dengan sengaja ia menghindari Friska.
          Benak Friska langsung bertanya-tanya setelah melihat sikapFandy yang sangat berubah setelah ia mengeyam bangku pendidikan di Singapore. Sosok Fandy yang ia kenal dulu adalah sesosok sahabat yang sangat solidaritas dan bahkan sebelum ia berangkat ke Singapore Fandy sempa mengutarakan perasaan dan isi hatinya kepada Friska. Memang sangat membingungkan namun Friska pun sudah tidak dapat berbuat apapun untuk mengubah Fandy menjadi sahabat karibnya seperti dahulu.
          Setelah makan malam bersama keluarganya Friska segera menghampiri mas Bayu yang sedang asyik main gitar kesayangannya. “ Mas, tau ngga tadi siang aku ketemu Fandy ! ”. Friska mencoba memulai pembicaraannya. “ Fandy ? Fandy yang sekolah di Singapore ? yang anak nya tante Lili itu ? ”. “ Iya mas Bayu tapi aku heran deh mas sama dia kayanya sekarang dia berubah 180 derajat celcius, mulai dari sikapnya, cara bicaranya semuanya deh mas ! ”, ujar Friska.
Mas Bayu langsung menyangkalnya, “ Ya ampun Friska kamu tuh aneh banget yaa. Yaiyalah dia pasti berubah cara bicaranya secara gitu dia kan udah lama tinggal di singapore jadi bahasa yang digunakan juga udah lain ”. “ Iiihh..... Mas Bayu aku juga tau tapi bukan itu yang aku maksud, dia itu sekarang jadi kaya orang yang ngga kenal sama aku gituu mas... “. “ Emangnya dia bilang apa sama kamu Fris ? “. Tanya mas Bayu yang dari tadi masih sibuk dengan petikan gitarnya juga bisa memfokuskan diri pada pembicaraan Friska adik semata wayangnya itu.
“ Dia ngga bilang apa-apa sih, Cuma waktu aku tanya kabarnya eh dia malah pergi katanya buru-buru masih banyak urusan “. Jelas Friska. “ Ya ampun de kamu itu kok jadi sensitive gitu sih ! sudahlah adikku tersayang jangan berfikir macam-macam siapa tahukan waktu itu Fandy memang sedang banyak urusan ya udah gimana kalau kita besok kerumahnya nanti mas antar deh de “.
Keesokan harinya Friska pun menghubungi Fandy. “ Hallo Fan, apa kabar kamu ? aku mau main kerumah kamu ya ! ” kata Friska. “ Jangan........ lagian mau ngapain sih kamu ke rumah aku ? “ tanya Fandy dengan nada menyentak. “ Ffandy kamu itu ada apa sih kok kayanya sekarang kamu tuh benci banget sama aku sampai-sampai aku nggak di kasih kesempatan untuk ketemu sama kamu. Aku itu hanya mau tau gimana kabar kamu sekarang lalu apa kesibukkan kamu dan gimana cerita kamu selama di Singapore, hanya itu memang aku salah yaa ?” Friska kesal dengan sikap Fandy. “ Iya, kamu salah kamu itu udah ganggu prefesi aku tau nggak lagi juga terserah aku dong mau ketemu kamu apa nggak ! ” jawab Fandy. “ Lho kok jadi gini sih Fan, mana Fandy yang aku kenal dulu mana Fandy sahabat aku dulu yang nggak pernah nyakitin perasaan aku kaya gini ! “ kata Friska sambil menangis. “ Pokoknya mulai sekarang nggak usah ganggu aku lagi “ kata Fandy dan langsung menutup telponnya. Friska pun menangis tersedu-sedu. Dan sejak itu iya sudah tidak pernah menghubungi Fandy lagi.
Ternyata perubahan sikap Fandy di karenakan ia mengidap penyakit kanker otak stadium 4 dan ketika ia berada di singapore sebenarnya bukan untuk melanjutkan kuliah melainkan untuk berobat disana. Semua itu ia lakukan karena ia nggak mau Friska tau tentang penyakitnya itu.
Suatu hari keadaan Fandy semakin drop ia di bawa ke RS. Harapan keluarganya pun sudah pasrah dengan keadaan Fandy. Kakaknya yang mengenal dekat dengan Friska langsung menghubungi Friska serta menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Fandy. Tetapi saat Friska masih menuju RS. Harapan Fandy pun sudah meninggal dunia. Dan sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya ia sempat menitipkan surat untuk Friska kepada kakaknya. Friska pun datang dan setelah mengetahui bahwa Fandy telah meninggalkan dirinya untuk selama air matanya pun langsung bertumpah ruah.
Setelah pemakaman kakaknya Fandy pun memberikan surat yang dititipkan Fandy untuk Friska. Surat itu berisi :
Dear Friska,
Pertama aku mau minta maaf sama kamu karena sikap aku yang berubah sama kamu aku hanya nggak mau kamu sedih saat tau kondisi aku kaya gimana karena aku sayang sama kamu aku nggak akan pernah tega liat kamu sedih apalagi sedih karena aku.
Friska, ada sedikit permintaan dariku walau kini persahabatan kita terbatasi ku harap kamu tidak akan pernah melupakan kenangan kita yang indah di masa lalu itu. Disaat bahagia kita selalu bersama, disaat duka pun selalu ada . Jangan pernah sesali perpisahan kita ini karena aku yakin dan percaya ini adalah awal dari persahabatan yang abadi. Masih sangat terasa di lubuk hatiku betapa besarnya ketulusan hatimu, didalam pikiranku masih tersirat dan tergambar jelas sesosok indah yang terpancar dari parasmu, serta masih terngiang pula ribuan kata penuh makna yang keluar dari bibir merona milik seorang gadis bernama Alfiani Friska Pratiwi.
Meskipun kini kita berada di dunia yang berbeda, percayalah ini bukan akhir dari segalanya dan takkan ada yang bisa memutuskan tali persahabatan kita karena kita adalah sahabat sejati yang takkan lekang oleh waktu. Jaga dirimu baik-baik dan jangan pernah lupakan aku :*.
                                                               Sahabatmu,
                                                               Muhammad Afandy Putra     

Sepucuk surat itu selalu memberikan kedamaian dihati Friska setiap kali ia membacanya dan air matanya pun selalu terjatuh tepat membasahi pipi indahnya yang selalu melukiskan senyuman indah di wajah cantik Friska dan itu semua turut pula menambah kehangatan suasana malam itu. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar